Rabu, 27 Mei 2015

MAKALAH ILMU GIZI PANGAN “HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI IBU HAMIL DENGAN BERAT BADAN BAYI LAHIR”




MAKALAH ILMU GIZI PANGAN
“HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI IBU HAMIL
DENGAN BERAT BADAN BAYI LAHIR”
Oleh :
Kelompok 1
Bhimantara Rizky Purnama    1414051013
Fitri Aini                                 1414051039
Jerry Kenezi                           1414051051
Peni Puji Astuti                       1414051079
Ria Iswandari                          1414051081
Riki Satria Rainaudi                1414051083

 

JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2015





I. PENDAHULUAN


A.      Latar Belakang

Di negara berkembang, termasuk Indonesia, masalah gizi masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama. Masalah gizi merupakan penyebab kematian ibu dan anak secara tidak langsung yang sebenarnya masih dapat dicegah. Rendahnya status gizi ibu hamil selama kehamilan dapat mengakibatkan berbagai dampak tidak baik bagi ibu dan bayi, diantaranya adalah bayi lahir dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Bayi dengan BBLR mempunyai peluang meninggal 10 – 20 kali lebih besar daripada bayi yang lahir dengan berat lahir cukup. Oleh karena itu, perlu adanya deteksi dini dalam kehamilan yang dapat mencerminkan pertumbuhan janin melalui penilaian status gizi ibu hamil (Chairunita, Hardiansyah, Dwiriani, 2006).

Salah satu cara untuk menilai kualitas bayi adalah dengan mengukur berat badan bayi pada saat lahir. Seorang ibu hamil akan melahirkan bayi yang sehat bila tingkat kesehatan dan gizinya berada pada kondisi yang baik. Namun sampai saat ini masih banyak ibu hamil yang mengalami masalah gizi khususnya gizi kurang seperti Kurang Energi Kronis (KEK). Hasil SurveySosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) 1999 menunjukkan bahwa terdapat 27,6 % ibu hamil KEK yang mempunyai kecenderungan melahirkan bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) (Lubis, 2003).



B. Rumusan masalah
Apakah ada hubungan antara status gizi ibu hamil dengan berat badan bayi lahir?

C. Tujuan

1.    Tujuan Umum

Untuk mempelajari dan menganalisishubungan antara status gizi ibu hamil dengan berat badan bayi lahir.

2.    Tujuan Khusus

a) Mengetahui insiden ibu hamil risiko KEK
b) Mengetahui insiden BBLR.
c) Mengetahui faktor – faktor yang berpengaruh terhadap berat badanbayi lahir

II. TINJAUAN PUSTAKA


1.        Status Gizi Ibu Hamil

Status gizi adalah keadaan tingkat kecukupan dan penggunaan satu nutrien atau lebih yang mempengaruhi kesehatan seseorang (Sediaoetama, 2000).

Status gizi seseorang pada hakekatnya merupakan hasil keseimbangan antara konsumsi zat-zat makanan dengan kebutuhan dari orang tersebut (Lubis, 2003).

Status gizi ibu hamil sangat mempengaruhi pertumbuhan janin yang sedang dikandung. Bila status gizi ibu normal pada masa kehamilan maka kemungkinan besar akan melahirkan bayi yang sehat, cukup bulan dengan berat badan normal. Dengan kata lain kualitas bayi yang dilahirkan sangat tergantung pada keadaan gizi ibu selama hamil(Lubis, 2003).

2.        Kebutuhan Gizi Selama Hamil

Kebutuhan zat gizi wanita hamil lebih besar bila dibandingkan dengan wanita tidak hamil dan tidak menyusui. Kebutuhan zat gizi tersebut adalah sebagai berikut :

a. Energi.

Kebutuhan tambahan energi yang dibutuhkan selama kehamilan adalah sebesar 300 kkal per hari menurut DEPKES RI (1996). Namun kebutuhan energi ini tidak sama pada setiap periode kehamilan. Kebutuhan energi pada triwulan pertama

pertambahannya sedikit sekali (minimal). Seiring dengan tumbuhnya janin, kebutuhan energi meningkat secara signifikan, terutama sepanjang triwulan dua dan tiga. Kebutuhan energi ini berdasarkan pada penambahan berat badan yang diharapkan yaitu 12,5 kg selama kehamilan (Prasetyono,
2009).

b. Protein.

Kebutuhan tambahan protein tergantung kecepatan pertumbuhan janinnya. Trimester pertama kurang dari 6 gram tiap hari sampai trimester dua. Trimester terakhir pada waktu pertumbuhan janin sangat cepat sampai 10 gram/hari. Bila bayi sudah dilahirkan
protein dinaikkan menjadi 15 gram/hari (Paath, 2004).
Dalam lokakarya Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi VI tahun 1998, beberapa pakar gizi menganjurkan penambahan protein sebesar 12 gram per hari selama kehamilan (Prasetyono, 2009).

c. Vitamin dan Mineral.

Bagi pertumbuhan janin yang baik dibutuhkan berbagai vitamin dan mineral, diantaranya adalah :
1)        Vitamin A.
Fungsi vitamin A adalah memberikan kontribusi terhadap reaksi fotokimia dalam retina. Vitamin A juga dibutuhkan dalam sintesis glikoprotein, yang mendorong pertumbuhan dan diferensiasi sel, pembentukkan tunas gigi dan pertumbuhan tulang. Sedangkan sumber makanan untuk vitamin A meliputi sayuran berdaun hijau, buah-buahan berwarna kuning pekat, hati sapi, susu, margarin dan mentega (Walsh, 2007).

Kebutuhan normal ibu hamil pada vitamin A menurut DEPKES RI (1996) adalah sebanyak 800 – 2.100 IU (International Unit) per hari. (Prasetyono,2009).

2)        Vitamin B.
Vitamin B6 (Piridoksin) adalah ko-enzim yang dibutuhkan untuk metabolisme asam amino dan glikogen. Asupan janin yang cepat terhadap vitamin B6 dan meningkatnya asupanprotein dalam kehamilan mengharuskan peningkatan asupan vitamin B6 dalam kehamilan. Sedangkan sumber makanan yang banyak mengandung vitamin B6 adalah daging sapi, daging unggas, telur, jeroan, tepung beras, dan sereal (Walsh, 2007).

Kebutuhan zat gizi akan vitamin B6 menurut DEPKES RI (1996) adalah sebesar 2,5 mg per hari (Prasetyono, 2009).

Vitamin B1 (Tiamin), vitamin B2 (Riboflavin), dan vitamin B3 (Niasin) diperlukan untuk metabolisme energi.Menurut DEPKES RI (1996) Angka Kecukupan Gizi (AKG) untuk masing-masing vitamin tersebut adalah sebesar 1,4 mg/hari, 1,4 mg/hari, dan 1,8 mg/hari. Sumber-sumber makanan yang banyak mengandung tiamindan niasinadalah daging babi, daging sapi, dan hati sedangkan riboflavin banyak ditemukan pada gandum, sereal, susu, telur, dan keju (Prasetyono, 2009).

Vitamin B12 (Kobalamin) diperlukan untuk pembelahan sel, sintesis protein, pemeliharaan sel-sel saraf serta produksi sel darah merah dan darah putih. Vitamin B12 terutama ditemukan dalam protein hewani (daging, ikan, susu) dan rumput laut. Menurut DEPKES RI (1996) kebutuhan vitamin B12 padamasa kehamilan adalah sebesar 2,6 μg/hari (Prasetyono, 2009).

3)        Vitamin C.

Vitamin C berfungsi sebagai antioksidan dan pentingdalam metabolisme tirosin, folat, histamin, dan beberapa obat-obatan. Selain itu, vitamin C dibutuhkan untuk fungsi leukosit, respon imun, penyembuhan luka, dan reaksi alergi (FloodandNutrition Board, 1990).

Jumlah vitamin C menurun dalam kehamilan, kemungkinan hal tersebut disebabkan oleh peningkatan volume darah dan aktivitas hormon. The NationalResearch Council memperkirakan bahwa penambahan 10 mg/hari vitamin C diperlukan dalam kehamilan untuk memenuhi kebutuhan sistem janin dan ibu. Sedangkan menurut DEPKES RI (1996) menganjurkan kebutuhan gizi ibu hamil pada vitamin C adalah sebesar 70 mg per hari. Sumber-sumber makanan yang banyak mengandung vitamin C adalah jeruk, strawberi, melon, brokoli, tomat, kentang, dan sayuran hijau mentah (Walsh, 2007).

4)        Vitamin D.

Vitamin D diperlukan untuk absorbsi kalsium danfosfor dari saluran pencernaan dan mineralisasi pada tulang sertagigi ibu dan janinnya. Hampir semua vitamin D disintesis dalam kulit seiring terpaparnya kulit dengan sinar ultraviolet dari matahari. Kekurangan vitamin D selama hamil berkaitan dengan gangguan metabolisme kalsium pada ibu dan janin, yaitu berupa hipokalsemia bayi baru lahir, hipoplasia enamel gigi bayi, dan osteomalasia pada ibu. Untuk menghindari hal-hal tersebut pada wanita hamil diberikan 10 μg (400 iu) per hari selama kehamilan serta mengkonsumsi susu yang diperkaya dengan vitamin D (Arisman, 2004).

5)        Vitamin E.

Vitamin E merupakan antioksidan yang penting bagi manusia. Vitamin E dibutuhkan untuk memelihara integritas dinding sel dan memelihara sel darah merah. Sumber makanan yang banyak mengandung vitamin E adalah margarin, biji gandum, tepung beras, dan kacang kacangan (Walsh, 2007).

Sedangkan AKG untuk ibu hamil menurut DEPKES RI (1996) adalah sebesar 14 IU per hari (Prasetyono, 2009).

6)        Vitamin K.

Vitamin K dibutuhkan dalam faktor-faktor pembekuandan sintesis protein di dalam tulang dan ginjal. Sumber-sumber makanan yang banyak mengandung vitamin K adalah sayuran berdaun hijau, susu, daging, dan kuning telur. Tidak ada rekomendasi spesifik untuk kehamilan akan kebutuhan vitamn K, namun dari AKG dapat diketahui kebutuhan vitamin K pada wanita dewasa yaitu sebesar 65 μg/hari (Prasetyono, 2009).

7)        Zat Besi.

Kekurangan zat besi dalam kehamilan dapat mengakibatkan anemia, karena kebutuhan wanita hamil akan zat besi meningkat (untuk pembentukkan plasenta dan sel darah merah) sebesar 200 % – 300 %. Rekomendasi Institute OfMedicine (IOM) terbaru untuk ibu hamil yang tidak anemikadalah 30 mg zat besi fero yang dimulai pada kehamilan Minggu ke – 12. Sedangkan ibu hamil dengan anemia defisiensi zat besi harus menambah asupan zat besi sebesar 60 – 120 mg/hari zat besi elemental. Anjuran tersebut sama dengan AKG pada ibu hamil akan kebutuhan zat besi selama kehamilan. Sumbermakanan yang mengandung zat besi diantaranya roti, sereal, kacang polong, sayuran, dan buah-buahan (Walsh, 2007).

8)        Kalsium.

Kalsium penting untuk kebutuhan kalsium ibu yang meningkat dan pembentukkan tulang rangka janin dan gigi. Asupan yang dianjurkan kira-kira 1200 mg/hari bagi wanita hamil yang berusia 25 tahun dan cukup 800 mg untuk mereka yang berusia lebih muda. Sumber utama kalsium adalah skimmedmilk, yoghurt, keju, udang, sarden, dan sayuran warna hijau tua (Arisman, 2004).

9)        Asam Folat.

Asam folat merupakan satu-satunya vitamin yang kebutuhannya berlipat dua selama kehamilan. Kekurangan asam folat bisa berdampak pada lahirnya bayi – bayi cacat yang sudah terbentuk sejak 2 sampai 4 minggu kehamilan. Asam folat yang tidak cukup dapat menyebabkan masalah pada tabung saraf bayi yang sedang berkembang. Kekurangan asam folat juga berkaitan dengan berat lahir rendah, ablasio plasenta, dan neural tubedefect. Jenis makanan yang banyak mengandung asam flat antara lain ragi, hati, brokoli, bayam, asparagus, kacangkacangan, ikan, daging, jeruk, dan telur. Sedangkan kebutuhan gizi ibu hamil akan asam folat adalah sebesar 400 mcg per hari (Prasetyono, 2009).

10)    Yodium.

Kekurangan yodium selama hamil mengakibatkan janin menderita hipotiroidisme yang selanjutnya berkembang menjadi kretinisme. Anjuran dari DEPKES RI (1996) untuk asupanyodium per hari pada wanita hamil dan menyusui adalah sebesar 175 μg dalam bentuk garam beryodium dan minyak beryodium (Prasetyono, 2009).


III. PEMBAHASAN


A.      Hubungan Antara Status Gizi Ibu Hamil Dengan Berat Badan Bayi Lahir

Berat badan bayi lahir adalah berat badan bayi yang diukur dalam waktu 30 menit
pertama sesudah bayi lahir dalam satuan gram. Skala pengukuran yang digunakan adalah skala rasio. Pada penelitian ini data BBLR akan dideskripsikan dalam kategori bayi dengan berat lahir normal yaitu 2500 - 4000 gram, bayi dengan berat lahir lebih yaitu > 4000 gram, dan bayi dengan berat lahir kurang yaitu < 2500 gram. Status gizi ibu hamil dapat diukur secara antropometri atau pengukuran komposisi tubuh dengan mengukur LILA (Lingkar Lengan Atas), disebut KEK bila LILA kurang dari 23,5 cm. LILA merupakan faktor yang dominan terhadap risiko terjadinya Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) dengan OddRatio sebesar 8,24
(Mutalazimah, 2007).

Bayi dengan berat lahir yang normal terbukti mempunyai kualitas fisik, intelegensia maupun mental yang lebih baik dibanding bayi dengan berat lahir kurang, sebaliknya bayi dengan berat lahir rendah (kurang dari 2500 gram) akan mengalami hambatan perkembangan dan kemunduran pada fungsi intelektualnya. Hal ini karena bayi BBLR memiliki berat otak yang lebih rendah, menunjukkan defisit sel-sel otak sebanyak 8-14 % dari normal, yang merupakan pertanda anak kurang cerdas dari seharusnya (Mutalazimah, 2007).


Status gizi ibu hamil bisa diketahui dengan mengukur LILA, bila kurang dari 23,5 cm maka ibu hamil tersebut termasuk KEK. Ini berarti ibu sudah mengalami keadaan kurang gizi dalam jangka waktu yang telah lama, bila ini terjadi maka kebutuhan nutrisi untuk proses tumbuh kembang janin menjadi terhambat, akibatnya melahirkan bayi BBLR (Mutalazimah, 2005).

Penelitian Thame (2000) di Kingston, Jamaika menyimpulkan bahwa status gizi ibu mempunyai keterkaitan erat terhadap berat bayi lahir. Penemuan tersebut didukung oleh penelitian Bhargava (2000) yang menyatakan bahwa status gizi yang rendah mempunyai korelasi dengan BBLR. Penelitian serupa juga diungkapkan oleh Merchant (1999) yang menyatakan bahwa status gizi adalah salah satu hal yang menjadi pertimbangan penting sebagai indikator terhadap hasil kelahiran(birthoutcome) (Mutalazimah, 2005).

Implikasi ukuran LILA terhadap berat bayi lahir adalah bahwa LILA menggambarkan keadaan konsumsi makanan terutama konsumsi energi dan protein dalam jangka panjang. Kekurangan energi secara kronis ini menyebabkan ibu hamil tidak mempunyai cadangan zat gizi yang adekuatuntuk menyediakan kebutuhan fisiologi kehamilan yakni perubahan hormon dan meningkatkan volume darah untuk pertumbuhan janin, sehingga suplai zat gizi pada janin pun berkurang akibatnya pertumbuhan dan perkembangan janin terhambat dan lahir dengan berat yang rendah (Depkes RI, 1996).

Status gizi ibu juga dapat diketahui dengan pengukuran secara laboratorium
terhadap kadar Hb darah, bila kurang dari 11 gr % maka ibu hamil tersebut
menderita anemia.Beberapa akibat anemia gizi pada wanita hamil dapat terjadi
pada ibu dan janin yang dikandungnya. Anemia pada ibu hamil akan menyebabkan gangguan nutrisi dan oksigenasi utero plasenta. Hal ini jelas menimbulkan gangguan pertumbuhan hasil konsepsi, sering terjadi immaturitas, prematuritas, cacat bawaan, atau janin lahir dengan berat badan yang rendah.(Soeharyo danPalarto, 1999).

Wanita Usia Subur (WUS) dan ibu hamil dengan status gizi yang baik
mempunyai kemungkinan lebih besar untuk melahirkan bayi yang sehat. Seperti
pada pengertian status gizi secara umum, maka status gizi ibu hamilpun adalah
suatu keadaan fisik yang merupakan hasil dari konsumsi, absorpsi dan utilisasi
berbagai macam zat gizi baik makro maupun mikro. Oleh karena proses kehamilan menyebabkan perubahan fisiologi termasuk perubahan hormon dan bertambahnya volume darah untuk perkembangan janin, maka intake zat gizi ibu hamil juga harus ditambah guna mencukupi kebutuhan tersebut
 (Depkes RI, 1996).

Status gizi ibu hamil bisa diketahui dengan mengukur ukuran lingkar lengan atas, bila kurang dari 23,5 cm maka ibu hamil tersebut termasuk KEK, ini berarti ibu sudah mengalami keadaan kurang gizi dalam jangka waktu yang telah lama, bila ini terjadi maka kebutuhan nutrisi untuk proses tumbuh kembang janin menjadi terhambat, akibatnya melahirkan bayi BBLR. Cara lain untuk memeriksa status gizi ibu hamil adalah dengan mengukur kadar Hb dalam darahnya, bila kurang dari 11 gr % maka ibu tersebut tergolong anemia, hal ini juga menyebabkan gangguan nutrisi yang salah satu akibatnya adalah BBLR (Prasetyono, 2009).

Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi yang dilahirkan dengan berat
kurang dari 2500 gram. BBLR dibagi menjadi dua golongan, yaitu prematur
dan dismatur. Bayi prematur adalah bayi yang dilahirkan dengan usia kehamilan
kurang dari 37 minggu dan mempunyai berat badan sesuai dengan berat badan
untuk masa kehamilan, sedangkan bayi dismatur adalah bayi lahir dengan berat
badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa kehamilan dan merupakan
bayi kecil untuk masa kehamilan (Lubiz, 2013).

Berat badan hamil ibu dengan berat lahir bayi menunjukkan hubungan berkekuatan relatif rendah (R = 0,25) dan berpola positif. Artinya, semakin
bertambah kenaikan berat badan hamil ibu, maka semakin berat bayi yang dilahirkan. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara
kenaikan berat badan hamil ibu dengan berat lahir. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian kohort (withinfamily cohort study) yang dilakukan di Amerika Serikat yang melaporkan bahwa kenaikan berat badan ibu hamil berkorelasi dengan berat lahir bayi (Fikawati, 2012).

IV. KESIMPULAN


 Berdasarkan pembahasan dapat disimpulkan bahwa status gizi yang diperoleh yaitu keseimbangan antara konsumsi zat-zat makanan dengan kebutuhan ibu hamil sangat berpengaruh terhadap berat badan bayi lahir. Kondisi kesehatan dan gizi ibu hamil yang baik akan melahirkan bayi sehat dengan keadaan gizi yang baik serta memiliki kecerdasan dan kepribadian yang baik. Sebaliknya, kondisi kesehatan dan gizi yang buruk selama kehamilan akan menciptakan generasi sumber daya manusia dengan kecerdasan yang relatif rendah yang pada gilirannya tidak akan mampu berproduksi.

DAFTAR PUSTAKA


Arisman. 2004. Gizi Dalam Daur Kehidupan. EGC. Jakarta.

Chairunita, Hardiansyah, Dwiriani. M. C. 2006. Model Penduga Berat Bayi Lahir Berdasarkan Pengukuran Lingkar Panggul Ibu Hamil. Jurnal Gizi danPangan November 2006 1 (2) : 17 – 25.

Depkes RI. 1996. Makanan Ibu Hamil. Direktorat Bina Gizi Masyarakat. Jakarta.

Depkes RI. 2000. Program Perbaikan Gizi Menuju Indonesia Sehat 2010. Direktorat Bina Gizi Masyarakat. Jakarta.

Lubis, Z. 2003. Status Gizi Ibu Hamil Serta Pengaruhnya Terhadap Bayi Yang Dilahirkan. Pengantar Falsafah Sains (PPS702) Program Pasca Sarjana S3IPB November 2003. Bogor.

Mutalazimah. 2005. Jurnal Penelitian Sains Dan Teknologi, Volume 6, No 2 : 114 – 126. Fakultas Ilmu Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Prasetyono. 2009. Mengenal Menu Sehat Ibu Hamil. DIVA Press. Jogjakarta.

Sediaoetama, A. D. 2000. Ilmu Gizi Untuk Mahasiswa Dan Profesi. Dian Rakyat. Jakarta.

Walsh, L. V. 2007. Buku Ajar Kebidanan Komunitas. EGC. Jakarta.
Sandra Fikawati, et all .2012. Status Gizi Ibu Hamil Dan Berat Lahir Bayi Pada
Kelompok Vegetarian, Makara, Kesehatan, Vol. 16, No. 1, Juni 2012: 29-
35. Universitas Indonesia. Depok .

PROPOSAL PKM LOLOS PIMNAS

PROPOSAL PKM K LOLOS PIMNAS