MAKALAH
ILMU GIZI PANGAN
“HUBUNGAN
ANTARA STATUS GIZI IBU HAMIL
DENGAN
BERAT BADAN BAYI LAHIR”
Oleh
:
Kelompok 1
Bhimantara Rizky Purnama 1414051013
Fitri Aini 1414051039
Jerry Kenezi 1414051051
Peni Puji Astuti 1414051079
Ria Iswandari 1414051081
Riki Satria Rainaudi 1414051083
JURUSAN
TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
LAMPUNG
2015
I.
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Di negara
berkembang, termasuk Indonesia, masalah gizi masih merupakan masalah kesehatan
masyarakat yang utama. Masalah gizi merupakan penyebab kematian ibu dan anak
secara tidak langsung yang sebenarnya masih dapat dicegah. Rendahnya status
gizi ibu hamil selama kehamilan dapat mengakibatkan berbagai dampak tidak baik
bagi ibu dan bayi, diantaranya adalah bayi lahir dengan Berat Badan Lahir
Rendah (BBLR). Bayi dengan BBLR mempunyai peluang meninggal 10 – 20 kali lebih
besar daripada bayi yang lahir dengan berat lahir cukup. Oleh karena itu, perlu
adanya deteksi dini dalam kehamilan yang dapat mencerminkan pertumbuhan janin
melalui penilaian status gizi ibu hamil (Chairunita, Hardiansyah, Dwiriani,
2006).
Salah satu cara
untuk menilai kualitas bayi adalah dengan mengukur berat badan bayi pada saat
lahir. Seorang ibu hamil akan melahirkan bayi yang sehat bila tingkat kesehatan
dan gizinya berada pada kondisi yang baik. Namun sampai saat ini masih banyak
ibu hamil yang mengalami masalah gizi khususnya gizi kurang seperti Kurang
Energi Kronis (KEK). Hasil SurveySosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) 1999
menunjukkan bahwa terdapat 27,6 % ibu hamil KEK yang mempunyai kecenderungan
melahirkan bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) (Lubis, 2003).
B.
Rumusan masalah
Apakah
ada hubungan antara status gizi ibu hamil dengan berat badan bayi lahir?
C. Tujuan
1.
Tujuan Umum
Untuk mempelajari dan
menganalisishubungan antara status gizi ibu hamil dengan berat badan bayi
lahir.
2.
Tujuan Khusus
a) Mengetahui insiden ibu hamil risiko
KEK
b) Mengetahui insiden BBLR.
c) Mengetahui faktor – faktor yang
berpengaruh terhadap berat badanbayi lahir
II. TINJAUAN PUSTAKA
1.
Status Gizi Ibu Hamil
Status gizi
adalah keadaan tingkat kecukupan dan penggunaan satu nutrien atau lebih yang mempengaruhi
kesehatan seseorang (Sediaoetama, 2000).
Status gizi seseorang
pada hakekatnya merupakan hasil keseimbangan antara konsumsi zat-zat makanan
dengan kebutuhan dari orang tersebut (Lubis, 2003).
Status gizi ibu
hamil sangat mempengaruhi pertumbuhan janin yang sedang dikandung. Bila status
gizi ibu normal pada masa kehamilan maka kemungkinan besar akan melahirkan bayi
yang sehat, cukup bulan dengan berat badan normal. Dengan kata lain kualitas
bayi yang dilahirkan sangat tergantung pada keadaan gizi ibu selama
hamil(Lubis, 2003).
2.
Kebutuhan Gizi Selama Hamil
Kebutuhan zat
gizi wanita hamil lebih besar bila dibandingkan dengan wanita tidak hamil dan
tidak menyusui. Kebutuhan zat gizi tersebut adalah sebagai berikut :
a. Energi.
Kebutuhan
tambahan energi yang dibutuhkan selama kehamilan adalah sebesar 300 kkal per
hari menurut DEPKES RI (1996). Namun kebutuhan energi ini tidak sama pada
setiap periode kehamilan. Kebutuhan energi pada triwulan pertama
pertambahannya
sedikit sekali (minimal). Seiring dengan tumbuhnya janin, kebutuhan energi
meningkat secara signifikan, terutama sepanjang triwulan dua dan tiga.
Kebutuhan energi ini berdasarkan pada penambahan berat badan yang diharapkan
yaitu 12,5 kg selama kehamilan (Prasetyono,
2009).
b. Protein.
Kebutuhan
tambahan protein tergantung kecepatan pertumbuhan janinnya. Trimester pertama
kurang dari 6 gram tiap hari sampai trimester dua. Trimester terakhir pada
waktu pertumbuhan janin sangat cepat sampai 10 gram/hari. Bila bayi sudah
dilahirkan
protein
dinaikkan menjadi 15 gram/hari (Paath, 2004).
Dalam lokakarya
Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi VI tahun 1998, beberapa pakar gizi
menganjurkan penambahan protein sebesar 12 gram per hari selama kehamilan (Prasetyono,
2009).
c. Vitamin dan
Mineral.
Bagi pertumbuhan
janin yang baik dibutuhkan berbagai vitamin dan mineral, diantaranya adalah :
1)
Vitamin A.
Fungsi vitamin A adalah memberikan
kontribusi terhadap reaksi fotokimia dalam retina. Vitamin A juga dibutuhkan
dalam sintesis glikoprotein, yang mendorong pertumbuhan dan diferensiasi sel,
pembentukkan tunas gigi dan pertumbuhan tulang. Sedangkan sumber makanan untuk
vitamin A meliputi sayuran berdaun hijau, buah-buahan berwarna kuning pekat,
hati sapi, susu, margarin dan mentega (Walsh, 2007).
Kebutuhan normal ibu hamil pada vitamin
A menurut DEPKES RI (1996) adalah sebanyak 800 – 2.100 IU (International Unit)
per hari. (Prasetyono,2009).
2)
Vitamin B.
Vitamin B6 (Piridoksin) adalah
ko-enzim yang dibutuhkan untuk metabolisme asam amino dan glikogen. Asupan
janin yang cepat terhadap vitamin B6 dan meningkatnya asupanprotein dalam
kehamilan mengharuskan peningkatan asupan vitamin B6 dalam kehamilan. Sedangkan
sumber makanan yang banyak mengandung vitamin B6 adalah daging sapi, daging
unggas, telur, jeroan, tepung beras, dan sereal (Walsh, 2007).
Kebutuhan zat gizi akan vitamin B6
menurut DEPKES RI (1996) adalah sebesar 2,5 mg per hari (Prasetyono, 2009).
Vitamin B1 (Tiamin), vitamin B2 (Riboflavin),
dan vitamin B3 (Niasin) diperlukan untuk metabolisme energi.Menurut
DEPKES RI (1996) Angka Kecukupan Gizi (AKG) untuk masing-masing vitamin
tersebut adalah sebesar 1,4 mg/hari, 1,4 mg/hari, dan 1,8 mg/hari.
Sumber-sumber makanan yang banyak mengandung tiamindan niasinadalah
daging babi, daging sapi, dan hati sedangkan riboflavin banyak ditemukan
pada gandum, sereal, susu, telur, dan keju (Prasetyono, 2009).
Vitamin B12 (Kobalamin) diperlukan
untuk pembelahan sel, sintesis protein, pemeliharaan sel-sel saraf serta
produksi sel darah merah dan darah putih. Vitamin B12 terutama ditemukan dalam
protein hewani (daging, ikan, susu) dan rumput laut. Menurut DEPKES RI (1996)
kebutuhan vitamin B12 padamasa kehamilan adalah sebesar 2,6 μg/hari
(Prasetyono, 2009).
3)
Vitamin C.
Vitamin C berfungsi sebagai antioksidan
dan pentingdalam metabolisme tirosin, folat, histamin, dan beberapa
obat-obatan. Selain itu, vitamin C dibutuhkan untuk fungsi leukosit, respon
imun, penyembuhan luka, dan reaksi alergi (FloodandNutrition Board,
1990).
Jumlah vitamin C menurun dalam
kehamilan, kemungkinan hal tersebut disebabkan oleh peningkatan volume darah
dan aktivitas hormon. The NationalResearch Council memperkirakan bahwa
penambahan 10 mg/hari vitamin C diperlukan dalam kehamilan untuk memenuhi
kebutuhan sistem janin dan ibu. Sedangkan menurut DEPKES RI (1996) menganjurkan
kebutuhan gizi ibu hamil pada vitamin C adalah sebesar 70 mg per hari.
Sumber-sumber makanan yang banyak mengandung vitamin C adalah jeruk, strawberi,
melon, brokoli, tomat, kentang, dan sayuran hijau mentah (Walsh, 2007).
4)
Vitamin D.
Vitamin D diperlukan untuk absorbsi
kalsium danfosfor dari saluran pencernaan dan mineralisasi pada tulang
sertagigi ibu dan janinnya. Hampir semua vitamin D disintesis dalam kulit seiring
terpaparnya kulit dengan sinar ultraviolet dari matahari. Kekurangan vitamin D
selama hamil berkaitan dengan gangguan metabolisme kalsium pada ibu dan janin,
yaitu berupa hipokalsemia bayi baru lahir, hipoplasia enamel gigi bayi, dan
osteomalasia pada ibu. Untuk menghindari hal-hal tersebut pada wanita hamil
diberikan 10 μg (400 iu) per hari selama kehamilan serta mengkonsumsi susu yang
diperkaya dengan vitamin D (Arisman, 2004).
5)
Vitamin E.
Vitamin E merupakan antioksidan yang
penting bagi manusia. Vitamin E dibutuhkan untuk memelihara integritas dinding
sel dan memelihara sel darah merah. Sumber makanan yang banyak mengandung
vitamin E adalah margarin, biji gandum, tepung beras, dan kacang kacangan
(Walsh, 2007).
Sedangkan AKG untuk ibu hamil menurut
DEPKES RI (1996) adalah sebesar 14 IU per hari (Prasetyono, 2009).
6)
Vitamin K.
Vitamin K dibutuhkan dalam faktor-faktor
pembekuandan sintesis protein di dalam tulang dan ginjal. Sumber-sumber makanan
yang banyak mengandung vitamin K adalah sayuran berdaun hijau, susu, daging,
dan kuning telur. Tidak ada rekomendasi spesifik untuk kehamilan akan kebutuhan
vitamn K, namun dari AKG dapat diketahui kebutuhan vitamin K pada wanita dewasa
yaitu sebesar 65 μg/hari (Prasetyono, 2009).
7)
Zat Besi.
Kekurangan zat besi dalam kehamilan
dapat mengakibatkan anemia, karena kebutuhan wanita hamil akan zat besi
meningkat (untuk pembentukkan plasenta dan sel darah merah) sebesar 200 % – 300
%. Rekomendasi Institute OfMedicine (IOM) terbaru untuk ibu hamil yang
tidak anemikadalah 30 mg zat besi fero yang dimulai pada kehamilan Minggu ke –
12. Sedangkan ibu hamil dengan anemia defisiensi zat besi harus menambah asupan
zat besi sebesar 60 – 120 mg/hari zat besi elemental. Anjuran tersebut sama
dengan AKG pada ibu hamil akan kebutuhan zat besi selama kehamilan.
Sumbermakanan yang mengandung zat besi diantaranya roti, sereal, kacang polong,
sayuran, dan buah-buahan (Walsh, 2007).
8)
Kalsium.
Kalsium penting untuk kebutuhan kalsium
ibu yang meningkat dan pembentukkan tulang rangka janin dan gigi. Asupan yang
dianjurkan kira-kira 1200 mg/hari bagi wanita hamil yang berusia 25 tahun dan
cukup 800 mg untuk mereka yang berusia lebih muda. Sumber utama kalsium adalah skimmedmilk,
yoghurt, keju, udang, sarden, dan sayuran warna hijau tua (Arisman, 2004).
9)
Asam Folat.
Asam folat merupakan satu-satunya
vitamin yang kebutuhannya berlipat dua selama kehamilan. Kekurangan asam folat
bisa berdampak pada lahirnya bayi – bayi cacat yang sudah terbentuk sejak 2
sampai 4 minggu kehamilan. Asam folat yang tidak cukup dapat menyebabkan
masalah pada tabung saraf bayi yang sedang berkembang. Kekurangan asam folat
juga berkaitan dengan berat lahir rendah, ablasio plasenta, dan neural
tubedefect. Jenis makanan yang banyak mengandung asam flat antara lain
ragi, hati, brokoli, bayam, asparagus, kacangkacangan, ikan, daging, jeruk, dan
telur. Sedangkan kebutuhan gizi ibu hamil akan asam folat adalah sebesar 400
mcg per hari (Prasetyono, 2009).
10)
Yodium.
Kekurangan yodium selama hamil
mengakibatkan janin menderita hipotiroidisme yang selanjutnya berkembang
menjadi kretinisme. Anjuran dari DEPKES RI (1996) untuk asupanyodium per hari
pada wanita hamil dan menyusui adalah sebesar 175 μg dalam bentuk garam
beryodium dan minyak beryodium (Prasetyono, 2009).
III.
PEMBAHASAN
A.
Hubungan Antara Status Gizi Ibu
Hamil Dengan Berat Badan Bayi Lahir
Berat badan bayi
lahir adalah berat badan bayi yang diukur dalam waktu 30 menit
pertama sesudah
bayi lahir dalam satuan gram. Skala pengukuran yang digunakan adalah skala
rasio. Pada penelitian ini data BBLR akan dideskripsikan dalam kategori bayi
dengan berat lahir normal yaitu 2500 - 4000 gram, bayi dengan berat lahir lebih
yaitu > 4000 gram, dan bayi dengan berat lahir kurang yaitu < 2500 gram. Status
gizi ibu hamil dapat diukur secara antropometri atau pengukuran komposisi tubuh
dengan mengukur LILA (Lingkar Lengan Atas), disebut KEK bila LILA kurang dari 23,5
cm. LILA merupakan faktor yang dominan terhadap risiko terjadinya Bayi Berat
Lahir Rendah (BBLR) dengan OddRatio sebesar 8,24
(Mutalazimah, 2007).
Bayi dengan
berat lahir yang normal terbukti mempunyai kualitas fisik, intelegensia maupun
mental yang lebih baik dibanding bayi dengan berat lahir kurang, sebaliknya
bayi dengan berat lahir rendah (kurang dari 2500 gram) akan mengalami hambatan perkembangan
dan kemunduran pada fungsi intelektualnya. Hal ini karena bayi BBLR memiliki
berat otak yang lebih rendah, menunjukkan defisit sel-sel otak sebanyak 8-14 %
dari normal, yang merupakan pertanda anak kurang cerdas dari seharusnya
(Mutalazimah, 2007).
Status gizi ibu
hamil bisa diketahui dengan mengukur LILA, bila kurang dari 23,5 cm maka ibu
hamil tersebut termasuk KEK. Ini berarti ibu sudah mengalami keadaan kurang
gizi dalam jangka waktu yang telah lama, bila ini terjadi maka kebutuhan
nutrisi untuk proses tumbuh kembang janin menjadi terhambat, akibatnya
melahirkan bayi BBLR (Mutalazimah, 2005).
Penelitian Thame
(2000) di Kingston, Jamaika menyimpulkan bahwa status gizi ibu mempunyai
keterkaitan erat terhadap berat bayi lahir. Penemuan tersebut didukung oleh
penelitian Bhargava (2000) yang menyatakan bahwa status gizi yang rendah
mempunyai korelasi dengan BBLR. Penelitian serupa juga diungkapkan oleh
Merchant (1999) yang menyatakan bahwa status gizi adalah salah satu hal yang
menjadi pertimbangan penting sebagai indikator terhadap hasil
kelahiran(birthoutcome) (Mutalazimah, 2005).
Implikasi ukuran
LILA terhadap berat bayi lahir adalah bahwa LILA menggambarkan keadaan konsumsi
makanan terutama konsumsi energi dan protein dalam jangka panjang. Kekurangan
energi secara kronis ini menyebabkan ibu hamil tidak mempunyai cadangan zat
gizi yang adekuatuntuk menyediakan kebutuhan fisiologi kehamilan yakni perubahan
hormon dan meningkatkan volume darah untuk pertumbuhan janin, sehingga suplai
zat gizi pada janin pun berkurang akibatnya pertumbuhan dan perkembangan janin
terhambat dan lahir dengan berat yang rendah (Depkes RI, 1996).
Status gizi ibu
juga dapat diketahui dengan pengukuran secara laboratorium
terhadap kadar
Hb darah, bila kurang dari 11 gr % maka ibu hamil tersebut
menderita
anemia.Beberapa akibat anemia gizi pada wanita hamil dapat terjadi
pada ibu dan
janin yang dikandungnya. Anemia pada ibu hamil akan menyebabkan gangguan
nutrisi dan oksigenasi utero plasenta. Hal ini jelas menimbulkan gangguan
pertumbuhan hasil konsepsi, sering terjadi immaturitas, prematuritas, cacat
bawaan, atau janin lahir dengan berat badan yang rendah.(Soeharyo danPalarto, 1999).
Wanita Usia
Subur (WUS) dan ibu hamil dengan status gizi yang baik
mempunyai
kemungkinan lebih besar untuk melahirkan bayi yang sehat. Seperti
pada pengertian
status gizi secara umum, maka status gizi ibu hamilpun adalah
suatu keadaan
fisik yang merupakan hasil dari konsumsi, absorpsi dan utilisasi
berbagai macam
zat gizi baik makro maupun mikro. Oleh karena proses kehamilan menyebabkan
perubahan fisiologi termasuk perubahan hormon dan bertambahnya volume darah
untuk perkembangan janin, maka intake zat gizi ibu hamil juga harus ditambah guna
mencukupi kebutuhan tersebut
(Depkes RI, 1996).
Status gizi ibu
hamil bisa diketahui dengan mengukur ukuran lingkar lengan atas, bila kurang
dari 23,5 cm maka ibu hamil tersebut termasuk KEK, ini berarti ibu sudah
mengalami keadaan kurang gizi dalam jangka waktu yang telah lama, bila ini
terjadi maka kebutuhan nutrisi untuk proses tumbuh kembang janin menjadi
terhambat, akibatnya melahirkan bayi BBLR. Cara lain untuk memeriksa status
gizi ibu hamil adalah dengan mengukur kadar Hb dalam darahnya, bila kurang dari
11 gr % maka ibu tersebut tergolong anemia, hal ini juga menyebabkan gangguan
nutrisi yang salah satu akibatnya adalah BBLR (Prasetyono, 2009).
Bayi berat lahir
rendah (BBLR) adalah bayi yang dilahirkan dengan berat
kurang dari 2500
gram. BBLR dibagi menjadi dua golongan, yaitu prematur
dan dismatur.
Bayi prematur adalah bayi yang dilahirkan dengan usia kehamilan
kurang dari 37
minggu dan mempunyai berat badan sesuai dengan berat badan
untuk masa
kehamilan, sedangkan bayi dismatur adalah bayi lahir dengan berat
badan kurang
dari berat badan seharusnya untuk masa kehamilan dan merupakan
bayi kecil untuk
masa kehamilan (Lubiz, 2013).
Berat badan
hamil ibu dengan berat lahir bayi menunjukkan hubungan berkekuatan relatif
rendah (R = 0,25) dan berpola positif. Artinya, semakin
bertambah
kenaikan berat badan hamil ibu, maka semakin berat bayi yang dilahirkan. Hasil
uji statistik menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara
kenaikan berat
badan hamil ibu dengan berat lahir. Hasil penelitian ini sejalan dengan
penelitian kohort (withinfamily cohort study) yang dilakukan di
Amerika Serikat yang melaporkan bahwa kenaikan berat badan ibu hamil berkorelasi
dengan berat lahir bayi (Fikawati, 2012).
IV. KESIMPULAN
Berdasarkan
pembahasan dapat disimpulkan bahwa status gizi yang diperoleh yaitu
keseimbangan antara konsumsi zat-zat makanan dengan kebutuhan ibu hamil sangat berpengaruh
terhadap berat badan bayi lahir. Kondisi kesehatan dan gizi ibu hamil yang baik
akan melahirkan bayi sehat dengan keadaan gizi yang baik serta memiliki
kecerdasan dan kepribadian yang baik. Sebaliknya, kondisi kesehatan dan gizi
yang buruk selama kehamilan akan menciptakan generasi sumber daya manusia
dengan kecerdasan yang relatif rendah yang pada gilirannya tidak akan mampu
berproduksi.
DAFTAR PUSTAKA
Arisman. 2004. Gizi
Dalam Daur Kehidupan. EGC. Jakarta.
Chairunita,
Hardiansyah, Dwiriani. M. C. 2006. Model Penduga Berat Bayi Lahir Berdasarkan
Pengukuran Lingkar Panggul Ibu Hamil. Jurnal Gizi danPangan November 2006 1
(2) : 17 – 25.
Depkes RI. 1996.
Makanan Ibu Hamil. Direktorat Bina Gizi Masyarakat. Jakarta.
Depkes RI. 2000. Program
Perbaikan Gizi Menuju Indonesia Sehat 2010. Direktorat Bina Gizi
Masyarakat. Jakarta.
Lubis, Z. 2003. Status
Gizi Ibu Hamil Serta Pengaruhnya Terhadap Bayi Yang Dilahirkan. Pengantar
Falsafah Sains (PPS702) Program Pasca Sarjana S3IPB November 2003. Bogor.
Mutalazimah. 2005. Jurnal
Penelitian Sains Dan Teknologi, Volume 6, No 2 : 114 – 126. Fakultas Ilmu
Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Prasetyono.
2009. Mengenal Menu Sehat Ibu Hamil. DIVA Press. Jogjakarta.
Sediaoetama, A.
D. 2000. Ilmu Gizi Untuk Mahasiswa Dan Profesi. Dian Rakyat. Jakarta.
Walsh, L. V.
2007. Buku Ajar Kebidanan Komunitas. EGC. Jakarta.
Sandra Fikawati,
et all .2012. Status Gizi Ibu Hamil Dan Berat Lahir Bayi Pada
Kelompok
Vegetarian, Makara, Kesehatan, Vol. 16, No. 1, Juni 2012: 29-
35. Universitas Indonesia. Depok .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar