SUKU
KATA, KATA DEPAN, PARTIKEL, SINGKATAN dan AKRONIM
(Laporan Presentasi Bahasa Indonesia)
Oleh
:
Candra Saputra 1414051027
Huriya A.P 1414051035
Indah putri asih 1414051045
Lia dahliani pratiwi 1414051075
Ria Iswandari 1414051081
Jurusan Teknologi Hasil Pertanian
Fakultas Pertanian
Universitas Lampung
2015
I.
PENDAHULUAN
Bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional dan
seharusnya kita menggunakannya dalam kegiatan sehari – hari. Selain itu
menggunakan bahasa Indonesia harus dengan baik dan benar, bukan dicampur
adukkan dengan bahasa daerah, bahasa asing dan bahasa “gaul“. Dalam hal ini
media berpengaruh kuat kepada masyarakat dalam berbahasa. Tetapi pada
kenyataannya, media justru menampilkan atau menulis berita yang cenderung
menggunakan bahasa Indonesia “ dicampur “ bahasa gaul, bahkan bahasa asing.
Dewasa ini penulisan kata dan pemakaian bahasa Indonesia semakin hari semakin kacau, dan belum ada lembaga pemerintahan dan masyarakat yang memberikan perhatian terhadap masalah ini. Apabila penulisan kata dan penggunaan bahasa Indonesia kian hari terus tergeser oleh bahasa asing atau bahasa daerah, maka posisi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional akan terlupakan oleh masyarakat Indonesia. Mengapa terjadi hal seperti itu?. Hal seperti itu terjadi karena masyarakat tidak tahu bagaimana penulisan kata yang tepat, serta mereka tidak tahu apa tujuan dari penggunaan kata dasar dan imbuhan.
Dewasa ini penulisan kata dan pemakaian bahasa Indonesia semakin hari semakin kacau, dan belum ada lembaga pemerintahan dan masyarakat yang memberikan perhatian terhadap masalah ini. Apabila penulisan kata dan penggunaan bahasa Indonesia kian hari terus tergeser oleh bahasa asing atau bahasa daerah, maka posisi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional akan terlupakan oleh masyarakat Indonesia. Mengapa terjadi hal seperti itu?. Hal seperti itu terjadi karena masyarakat tidak tahu bagaimana penulisan kata yang tepat, serta mereka tidak tahu apa tujuan dari penggunaan kata dasar dan imbuhan.
II.
PEMBAHASAN
2.1
Suku kata
Suku
kata adalah penggalan-penggalan bunyi dari kata dalam satu ketukan atau satu
hembusan nafas. Kata rumah akan
diucapkan ru dan mah, kata berenang akan diucapkan be, re,
dan nang jika kedua
kata itu diucapkan dengan cara sepenggal- sepenggal.
A.
Jumlah suku kata
pada bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:
Setiap kata dalam bahasa Indonesi memiliki
suku kata yg berbeda-beda.
1).
Terdiri dari satu suku kata, contoh: cat, bor, bom, lap, dan lain-lain.
2). Terdiri dari dua suku kata, contoh: pa-gi, ru-mah, a-ku, ka-mu, dan lainya.
3). Terdiri dari tiga suku kata, contoh: me-re-ka, ke-ma-ri, sa-ra-pan, dan lainnya.
4). Terdiri dari empat suku kata, contoh: tu-na-wis-ma, da-sa-war-sa, dan lainnya.
5). Terdiri dari lima suku kata, contoh: pra-mu-ni-a-ga, dar-ma-wi-sa-ta.
2). Terdiri dari dua suku kata, contoh: pa-gi, ru-mah, a-ku, ka-mu, dan lainya.
3). Terdiri dari tiga suku kata, contoh: me-re-ka, ke-ma-ri, sa-ra-pan, dan lainnya.
4). Terdiri dari empat suku kata, contoh: tu-na-wis-ma, da-sa-war-sa, dan lainnya.
5). Terdiri dari lima suku kata, contoh: pra-mu-ni-a-ga, dar-ma-wi-sa-ta.
B. Pola-pola suku kata dalam bahasa Indonesia adalah
sebagai berikut:
1). Pola KV (konsonan vokal), contoh: sa-ku, se-la-ma, se-pa-tu, dan
lainnya.
2). Pola VK, contoh: an-da, am-pun,
dan lain-lain.
3). Pola KVK, contoh: lak-sa-na, pe-rak, dan lainny.
4). Pola KKV, contoh: pra-mu-ga-ri.
5). Pola KKVK, contoh: ben-trok.
6). Pola KKKVK, contoh: struk-tur.
3). Pola KVK, contoh: lak-sa-na, pe-rak, dan lainny.
4). Pola KKV, contoh: pra-mu-ga-ri.
5). Pola KKVK, contoh: ben-trok.
6). Pola KKKVK, contoh: struk-tur.
Jika
suku kata berakhir dengan vokal, maka disebut suku buka. Dan jika berakhir
dengan konsonan disebut suku tutup.
C. Aturan pemenggalan atau penyukuan kata adalah
sebagai berikut:
1). Jika dua vokal berada di tengah kata, maka pemenggalan diantara dua vokal, contoh: main dipenggal ma-in.
2). Jika konsonan diapit dua pokal seperti kata anak, barang, maka pemenggalan sebelum hurup konsonan, contaoh: a-nak, ba-rang.
3). Jika dua konsonan berurutan di tengah kata, pemenggalan dilakukan diantara dua konsonan, contoh: sanjung menjadi san-jung.
4). Jika ditengah kata terdapat tiga konsonan atau lebih, pemenggalan dilakukan diantara konsonan pertama dan kedua, contoh: bentrok menjadi ben-trok.
1). Jika dua vokal berada di tengah kata, maka pemenggalan diantara dua vokal, contoh: main dipenggal ma-in.
2). Jika konsonan diapit dua pokal seperti kata anak, barang, maka pemenggalan sebelum hurup konsonan, contaoh: a-nak, ba-rang.
3). Jika dua konsonan berurutan di tengah kata, pemenggalan dilakukan diantara dua konsonan, contoh: sanjung menjadi san-jung.
4). Jika ditengah kata terdapat tiga konsonan atau lebih, pemenggalan dilakukan diantara konsonan pertama dan kedua, contoh: bentrok menjadi ben-trok.
2.2
Kata depan
Preposisi atau kata
depan adalah kata yang secara sintaksis terdapat didepan nomina, adjektiva,
atau adverbia dan
secara semantis menandai berbagai hubungan makna antara konstituen di depan dan
di belakang preposisi tersebut.
Dilihat dari fungsinya, kata
depan menyatakan hal-hal berikut:
1.
Tempat berada, yaitu; di, pada, dalam, atas
dan antara.
2.
Arah asal, yaitu; dari.
3.
Arah tujuan, yaitu; ke, kepada, akan, dan
terhadap.
4.
Pelaku, yaitu; oleh.
5.
Alat, yaitu; dengan dan berkat.
6.
Perbandingan, yaitu; daripada.
7.
Hal atau masalah, yaitu; tentang dan
mengenai.
8.
Akibat, yaitu; hingga dan sampai.
9.
Tujuan, yaitu; untuk, buat, guna, dan bagi.
Jenis – jenis kata depa adalah sebagai
berikut:
1. Kata Depan dalam; Dalam
tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat; Dalam bentrokan itu beberapa orang
menjadi korban ; Dalam waktu 2 jam perampok itu telah dapat dibekuk.
2. Kata Depan akan; Akan
sawah dan ladang di sana, biarlah diurus oleh paman Hasan.
3. Kata Depan terhadap; Terhadap
ibunya dia berani berkata begitu, apalagi kepada kita.
4. Kata Depan oleh; Pabrik
pupuk itu akan diresmikan oleh Presiden SBY.
Kata Depan dengan;
Adik
menulis dengan spidol.
5. Kata Depan atas ;atas nama, atas kehendak, atas
anjuran,
atas permintaan, dan atas desakan.
6. Kata Depan antara; Antara
tidur dan jaga saya mendengar suara ketukan pintu.
7. Kata Depan kepada; kepada
bapak Mulyono di Jakarta.
8. Kata Depan berkat; Berkat
bantuan Anda, saya terbebas dari kesulitan ini.
9. Kata Depan tentang; Tentang
perundingan itu sendiri tidak banyak dibicarakan lagi.
10. Kata Depan sampai; Mereka belajar sampai larut malam
11. Kata Depan guna; Guna
kepentingan umum kami rela berkorban.
12. Kata Depan demi; Demi
kepentingan pembangunan kami rela berkorban.
13. Kata Depan untuk; Untuk
kepentingan umum, kami rela berkorban.
14. Kata Depan bagi; Bagi
kepentingan pembangunan kami rela berkorban.
15. Kata Depan menurut; Menurut
ketua organisasi itu siapa saja boleh mendaftar jadi anggota.
2.3
Penulisan Partikel
Partikel adalah semacam kata
tugas yang mempunyai bentuk sangat ringkas dan kecil dan mempunyai fungsi
tertentu.
Berikut adalah
bagian-bagian dalam penulisan partikel:
1. Partikel
lah, kah, dan tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.Contohnya:
a) Bacalah
buku itu dengan teliti!
b) Apakah
dia menitip pesan untukku?
2. Partikel
pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
Contohnya:
a) Apa
pun permasalahannya, dia pasti akan tetap berusaha untuk menyelesaikannya
b) Jangankan
dua
kali, satu kali pun engkau belum pernah datang ke rumahku
3. Partikel
pun pada gabungan yang lazim diangggap padu ditulis serangkai dengan kata yang
mendahuluinya.Contohnya:
a) Bagaimanapun
juga, dia tetap menjadi temanku
b) Walaupun
sederhana, taman itu terlihat begitu asri
4. Partikel
per yang berarti demi, tiap, atau mulai ditulis terpisah dari kata yang
mengikutinya.Contohnya:
a) Harga
buah itu Rp 15.000,00 per kilogram
b) Mereka
masuk ke kelas satu per satu
2.4 Singkatan
dan akronim
Singkatan
dan akronim adalah kependekan dari kata atau gabungan kata. Perbedaan antara
singkatan dan akronim adalah bentuk singkatan dilafalkan huruf per huruf,
sedangkan akronim dilafalkan sebagai suku kata.
Macam
– macam singkatan ad lah sebagi berikut:
1.
Singkatan ini terdiri atas huruf besar. Huruf besar yang dijadikan pola
singkatan tersebut adalah huruf-huruf awal kata. Pada singkatan ini tidak
diperlukan tanda titik.
Contoh:
APBN <a-pe-be-en> (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara), BBM
<be-be-em> (bahan bakar minyak), SLI <es-el-i> (sambungan langsung
internasional), PT <pe-te>. (Perseroan Terbatas), TVRI <te-ve-er-i>
(Televisi Republik Indonesia), WNA <we-en-a> (Warga Negara Asing).
2. Singkatan yang terdiri atas huruf-huruf kecil.
Singkatan tersebut berasal dari huruf awal kata. Dalam pembentukannya harus
digunakan tanda titik di antara huruf-huruf pembentuk singkatan itu.
Contoh: a.n. <a-en> (atas nama), d.a. <de-a> (dengan alamat), p.p.<pe-pe> (pulang pergi), u.p.<u-pe> (untuk perhatian), a.l. <a-el> (antara lain), y.l.<ye-el> (yang lalu).
Contoh: a.n. <a-en> (atas nama), d.a. <de-a> (dengan alamat), p.p.<pe-pe> (pulang pergi), u.p.<u-pe> (untuk perhatian), a.l. <a-el> (antara lain), y.l.<ye-el> (yang lalu).
3. Singkatan yang terdiri atas huruf-huruf kecil, yang
dibentuk dari huruf awal. Singkatan ini terdiri atas tiga huruf kecil dan
dibubuhi tanda titik pada akhir singkatan.
Contoh: dll.<de-el-el> (dan lain-lain), dsb.<de-es-be> (dan sebagainya), dkk.<de-ka-ka> (dan kawan-kawan), ybs.<ye-be-es>(yang bersangkutan), tsb.<te-es-be> (tersebut), yad.<ye-a-de> (yang akan datang) .
Contoh: dll.<de-el-el> (dan lain-lain), dsb.<de-es-be> (dan sebagainya), dkk.<de-ka-ka> (dan kawan-kawan), ybs.<ye-be-es>(yang bersangkutan), tsb.<te-es-be> (tersebut), yad.<ye-a-de> (yang akan datang) .
4. Pola singkatan yang berkaitan dengan lambang kimia,
ukuran, timbangan, dan besaran. Tanda titik tidak digunakan pada pola singkatan
ini.
Contoh: Rp (rupiah), cm (sentimeter), kg (kilogram), MHz (megahertz), Ca (kalsium)
Contoh: Rp (rupiah), cm (sentimeter), kg (kilogram), MHz (megahertz), Ca (kalsium)
5. Singkatan pada gelar kesarjanaan dan sapaan.
Singkatan dapat terdiri atas huruf awal kata atau dapat pula berbentuk akronim.
Tanda titik digunakan pada setiap huruf besar hasil singkatan.
Contoh: S.H. <es-ha> (Sarjana Hukum), S.Psi. <es-psi> (Sarjana Psikologi), M.M.<em-em> (Magister Manajemen), S.Ag. <es-ag> (Sarjana Agama), K.H. <ka-ha> (Kyai Haji), R.A.<er-a> (Raden Ajeng).
Contoh: S.H. <es-ha> (Sarjana Hukum), S.Psi. <es-psi> (Sarjana Psikologi), M.M.<em-em> (Magister Manajemen), S.Ag. <es-ag> (Sarjana Agama), K.H. <ka-ha> (Kyai Haji), R.A.<er-a> (Raden Ajeng).
6.
Akronim yang unsur-unsurnya terdiri atas huruf-huruf besar. Huruf-huruf besar
yang membentuknya terdiri atas huruf-huruf awal kata. Contoh: ABRI<a-bri>
(Angkatan Bersenjata Republik Indonesia), ASI<a-si> (Air Susu Ibu),
HUT<hut> (hari ulang tahun), ISTI <is-ti> (Institut Seni Tari
Indonesia), PAM <pam> (perusahaan air minum), SIM <sim> (Surat Izin
Mengemudi).
7. Singkatan yang berupa akronim dari nama badan atau
nama diri. Singkatan ini terdiri atas huruf-huruf bagian kata yang membentuk
singkatan itu. Singkatan ini dilafalkan sebagai sebuah kata, sehingga disebut
akronim. Huruf
awal akronim ditulis dengan huruf besar.
Contoh: Bappenas <ba-pe-nas> (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional), Depdiknas<dep-dik-nas> (Departemen Pendidikan Nasional), Bakin,<ba-kin>. (Badan Koordinasi Intelijen Negara), Kapolri<ka-pol-ri> (Kepala Kepolisian Republik Indonesia), Wagub <wa-gub> (Wakil Gubernur)
Contoh: Bappenas <ba-pe-nas> (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional), Depdiknas<dep-dik-nas> (Departemen Pendidikan Nasional), Bakin,<ba-kin>. (Badan Koordinasi Intelijen Negara), Kapolri<ka-pol-ri> (Kepala Kepolisian Republik Indonesia), Wagub <wa-gub> (Wakil Gubernur)
8. Akronim pada pola ini adalah akronim yang seluruhnya
ditulis dengan huruf kecil. Contoh: tilang (bukti pelanggaran), rudal (peluru
kendali), sosbud (sosial budaya), toserba (toko serbaada), pemilu (pemilihan
umum).
9. Bentuk singkatan yang sebagian berasal dari
kata-kata asal bahasa asing. Dalam singkatan ini tidak diperlukan tanda
titik.
Contoh: memo (memorandum), lab (laboratorium), resto (restoran), promo (promosi), seleb (selebritis), kafe (kafetaria), info (informasi), nego (negosiasi), matre (materialistis), lesbi (lesbian), konsen(konsentrasi).
Jika dianggap perlu membentuk akronim, hendaknya diperhatikan syarat berikut.
Jumlah suku kata akronim jangan melebihi suku yang lazim pada kata Indonesia.
Akronim dibentuk dengan memperhatikan keserasian kombinasi vokal dan konsonan yang sesuai dengan pola kata Indonesia yang lazim.
Karena akronim dilafalkan sebagai kata yang wajar, maka kadang-kadang akronim dapat diberi imbuhan.
Contoh: tilang (bukti pelanggaran)-menilang-ditilang-penilangan
PHK (putus hubungan kerja)-mem-PHK, di-PHK-kan
tapol (tahanan politik)-ditapolkan = dijadikan sebagai tahanan
Contoh: memo (memorandum), lab (laboratorium), resto (restoran), promo (promosi), seleb (selebritis), kafe (kafetaria), info (informasi), nego (negosiasi), matre (materialistis), lesbi (lesbian), konsen(konsentrasi).
Jika dianggap perlu membentuk akronim, hendaknya diperhatikan syarat berikut.
Jumlah suku kata akronim jangan melebihi suku yang lazim pada kata Indonesia.
Akronim dibentuk dengan memperhatikan keserasian kombinasi vokal dan konsonan yang sesuai dengan pola kata Indonesia yang lazim.
Karena akronim dilafalkan sebagai kata yang wajar, maka kadang-kadang akronim dapat diberi imbuhan.
Contoh: tilang (bukti pelanggaran)-menilang-ditilang-penilangan
PHK (putus hubungan kerja)-mem-PHK, di-PHK-kan
tapol (tahanan politik)-ditapolkan = dijadikan sebagai tahanan
Politik.
III.
KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang
diperoleh adalah sebagai berikiut:
1.
Jika sebuah kata diucapkan secara
sepenggal-sepenggal maka cara pengucapannya dibatasi menggunakan tanda (-)
2.
Jumlah suku kata dalam bahasa indonesia
memiliki suku kata yang berbeda-beda. Ada yang terdiri dari satu suku kata, dua
suku kata, tida suku kata, empat suku kata dan llima suku kata.
3.
Pola suku kata dalam bahasa indonesia ada
lima. Pola KV, VK, KVK, KKV, KKVK, dan KKKVK.
4.
Kata depan yang merupakan kata sambung tidak
di letakkan diawal kalimat, melainkan di tengah kalimat.
5.
Singkatan dilafalkan huruf per huruf,
sedangkan akronim dilafalkan sebagai suku kata.
DAFTAR
PUSTAKA
Hs.
Widjono. 2012. Bahas Indonesia (Mata
Kuliah Pengembangan
I
Nengah Sukarta, dkk. 2011.Bahasa Indonesia Akademik untuk
Perguruan Tinggi Edisi I, Cetakan 2. Swasta Nulus. Bali.
Studio,
W. 2010. Pedoman Umum Ejaan Bahasa
Indonesia Yang
Disempurnakan
& Pedoman Umum Pembentukan Istilah.
Yrama Widya. Bandung.
Susanti,
W. 2013. Pedoman Pintar EYD Terbaru.
CV Mitra Media Pustaka.
Klaten Utara.
Pertanyaan diskusi
1.
Bimantara rizki : bagaimana cara penulisan
singkatan jalan dengan benar?
Jawab
: penulisan singkatan “jalan” yang benar berdasarkan kamus besar bahasa
indonesia adalah “jln”
2.
M. Iqbal saputra : maksud dari penulisan
singkatan dengan sewajarnya ?
Jawab
: maksud dari penulisan singkatan dengan bahasa yang sewajarnya adalah dalam
membuat singkatan, kita tidak boleh mengambil terlalu banyak huruf yang
menyusun kata tersebut. Misalnya untuk menyingkat Departemen Pendidikan
Nasional maka di singkat Depdiknas, Dep diambil darp kata Departemen, dik
diambil dari kata Pendidikan, dan nas diambil dari kata Nasional.
3.
Arfiathi : contoh lain dari partikel tah, dan
apakah partikel tah itu kata baku?
Jawab
: contoh lain dari partikel tah adalah “apa iya tah dia tega mennggalkan anda
begitu saja?” partikel tah bukan kata baku, partikel tah hanya di gunakan dalam
dialog sehari-hari.
4.
Desti fauziah : maksud dari penambahan
partikel dalam sebuah kata atau kalimat?
Jawab
: maksud dari penambahan partikel dalam sebuah kata atau kalimat adalah untuk mempertegas
kalimat tersebut, misalnya untuk mempertegas kalimat tanya maka dipakai
partikel “kah”. Contohnya dalam kalimat “ apakah anda tidak sibuk?”.
5.
Anang ismarama : cara membedakan singkatan
dengan akronim?
Jawab
: perbedaan antara singkatan dengan akronim adalah bentuk singkatan dilafalkan
huruf per huruf, sedangkan akronim dilafalkan sebagai suku kata.
6.
Adam jordan : mengapa kata oleh, dengan dan
sampai dalam penggunaan kata depan tidak digunakan pada awal kalimat?
Jawab
: karena kata oleh, dengan dan sampai merupakan kata sambung. Jadi tidak
digunakan diawal kalimat, melainkan di tengah kalimat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar