Selasa, 02 Juni 2015

SUKU KATA, KATA DEPAN, PARTIKEL, SINGKATAN dan AKRONIM



SUKU KATA, KATA DEPAN, PARTIKEL, SINGKATAN dan AKRONIM
 (Laporan Presentasi Bahasa Indonesia)
Oleh :
Candra Saputra       1414051027
Huriya A.P                 1414051035
Indah putri asih        1414051045
Lia dahliani pratiwi  1414051075
Ria Iswandari           1414051081




Jurusan Teknologi Hasil Pertanian
 Fakultas Pertanian
Universitas Lampung
2015


I.              PENDAHULUAN


Bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional dan seharusnya kita menggunakannya dalam kegiatan sehari – hari. Selain itu menggunakan bahasa Indonesia harus dengan baik dan benar, bukan dicampur adukkan dengan bahasa daerah, bahasa asing dan bahasa “gaul“. Dalam hal ini media berpengaruh kuat kepada masyarakat dalam berbahasa. Tetapi pada kenyataannya, media justru menampilkan atau menulis berita yang cenderung menggunakan bahasa Indonesia “ dicampur “ bahasa gaul, bahkan bahasa asing.
 Dewasa ini penulisan kata dan pemakaian bahasa Indonesia semakin hari semakin kacau, dan belum ada lembaga pemerintahan dan masyarakat yang memberikan perhatian terhadap masalah ini. Apabila penulisan kata dan penggunaan bahasa Indonesia kian hari terus tergeser oleh bahasa asing atau bahasa daerah, maka posisi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional akan terlupakan oleh masyarakat Indonesia. Mengapa terjadi hal seperti itu?. Hal seperti itu terjadi karena masyarakat tidak tahu bagaimana penulisan kata yang tepat, serta mereka tidak tahu apa tujuan dari penggunaan kata dasar dan imbuhan.






II. PEMBAHASAN

2.1 Suku kata
Suku kata adalah penggalan-penggalan bunyi dari kata dalam satu ketukan atau satu hembusan nafas. Kata rumah akan diucapkan ru dan mah, kata berenang akan diucapkan bere, dan nang jika kedua kata itu diucapkan dengan cara sepenggal- sepenggal.
A.   Jumlah suku kata pada bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:
Setiap kata dalam bahasa Indonesi memiliki suku kata yg berbeda-beda.
1). Terdiri dari satu suku kata, contoh: cat, bor, bom, lap, dan lain-lain.
2). Terdiri dari dua suku kata, contoh: pa-gi, ru-mah, a-ku, ka-mu, dan lainya.
3). Terdiri dari tiga suku kata, contoh: me-re-ka, ke-ma-ri, sa-ra-pan, dan lainnya.
4). Terdiri dari empat suku kata, contoh: tu-na-wis-ma, da-sa-war-sa, dan lainnya.
5). Terdiri dari lima suku kata, contoh: pra-mu-ni-a-ga, dar-ma-wi-sa-ta.





B.   Pola-pola suku kata dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:
1). Pola KV (konsonan vokal), contoh: sa-ku, se-la-ma, se-pa-tu, dan lainnya.
2). Pola VK, contoh: an-da, am-pun, dan lain-lain.
3). Pola KVK, contoh: lak-sa-na, pe-rak, dan lainny.
4). Pola KKV, contoh: pra-mu-ga-ri.
5). Pola KKVK, contoh: ben-trok.
6). Pola KKKVK, contoh: struk-tur.
Jika suku kata berakhir dengan vokal, maka disebut suku buka. Dan jika berakhir dengan konsonan disebut suku tutup.
C.   Aturan pemenggalan atau penyukuan kata adalah sebagai berikut:
1). Jika dua vokal berada di tengah kata, maka pemenggalan diantara dua vokal, contoh: main dipenggal ma-in.
2). Jika konsonan diapit dua pokal seperti kata anak, barang, maka pemenggalan sebelum hurup konsonan, contaoh: a-nak, ba-rang.
3). Jika dua konsonan berurutan di tengah kata, pemenggalan dilakukan diantara dua konsonan, contoh: sanjung menjadi san-jung.
4). Jika ditengah kata terdapat tiga konsonan atau lebih, pemenggalan dilakukan diantara konsonan pertama dan kedua, contoh: bentrok menjadi ben-trok.

2.2 Kata depan
Preposisi atau kata depan adalah kata yang secara sintaksis terdapat didepan nominaadjektiva, atau adverbia dan secara semantis menandai berbagai hubungan makna antara konstituen di depan dan di belakang preposisi tersebut.
Dilihat dari fungsinya, kata depan menyatakan hal-hal berikut:
1.    Tempat berada, yaitu; di, pada, dalam, atas dan antara.
2.    Arah asal, yaitu; dari.
3.    Arah tujuan, yaitu; ke, kepada, akan, dan terhadap.
4.    Pelaku, yaitu; oleh.
5.    Alat, yaitu; dengan dan berkat.
6.    Perbandingan, yaitu; daripada.
7.    Hal atau masalah, yaitu; tentang dan mengenai.
8.    Akibat, yaitu; hingga dan sampai.
9.    Tujuan, yaitu; untuk, buat, guna, dan bagi.

Jenis – jenis kata depa adalah sebagai berikut:

1.    Kata Depan dalam; Dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat; Dalam bentrokan itu beberapa orang menjadi korban ; Dalam waktu 2 jam perampok itu telah dapat dibekuk.
2.    Kata Depan akan; Akan sawah dan ladang di sana, biarlah diurus oleh paman Hasan.
3.    Kata Depan terhadap; Terhadap ibunya dia berani berkata begitu, apalagi kepada kita.
4.    Kata Depan oleh; Pabrik pupuk itu akan diresmikan oleh Presiden SBY.
Kata Depan dengan; Adik menulis dengan spidol.
5.    Kata Depan atas ;atas nama, atas kehendak, atas anjuran, atas permintaan, dan atas desakan.
6.    Kata Depan antara; Antara tidur dan jaga saya mendengar suara ketukan pintu.
7.    Kata Depan kepada; kepada bapak Mulyono di Jakarta.
8.    Kata Depan berkat; Berkat bantuan Anda, saya terbebas dari kesulitan ini.
9.    Kata Depan tentang; Tentang perundingan itu sendiri tidak banyak dibicarakan lagi.
10. Kata Depan sampai; Mereka belajar sampai larut malam
11. Kata Depan guna; Guna kepentingan umum kami rela berkorban.

12. Kata Depan demi; Demi kepentingan pembangunan kami rela berkorban.
13. Kata Depan untuk; Untuk kepentingan umum, kami rela berkorban.
14. Kata Depan bagi; Bagi kepentingan pembangunan kami rela berkorban.
15. Kata Depan menurut; Menurut ketua organisasi itu siapa saja boleh mendaftar jadi anggota.

2.3 Penulisan Partikel
Partikel adalah semacam kata tugas yang mempunyai bentuk sangat ringkas dan kecil dan mempunyai fungsi  tertentu.   
  Berikut adalah bagian-bagian dalam penulisan partikel:
1.      Partikel lah, kah, dan tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.Contohnya:
a)      Bacalah buku itu dengan teliti!
b)      Apakah dia menitip pesan untukku?
2.      Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
Contohnya:
a)      Apa pun permasalahannya, dia pasti akan tetap berusaha untuk menyelesaikannya
b)      Jangankan dua kali, satu kali pun engkau belum pernah datang ke rumahku
3.      Partikel pun pada gabungan yang lazim diangggap padu ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.Contohnya:
a)      Bagaimanapun juga, dia tetap menjadi temanku
b)      Walaupun sederhana, taman itu terlihat begitu asri
4.      Partikel per yang berarti demi, tiap, atau mulai ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.Contohnya:
a)      Harga buah itu Rp 15.000,00 per kilogram
b)      Mereka masuk ke kelas satu per satu

2.4 Singkatan dan akronim
Singkatan dan akronim adalah kependekan dari kata atau gabungan kata. Perbedaan antara singkatan dan akronim adalah bentuk singkatan dilafalkan huruf per huruf, sedangkan akronim dilafalkan sebagai suku kata.
Macam – macam singkatan ad lah sebagi berikut:
1. Singkatan ini terdiri atas huruf besar. Huruf besar yang dijadikan pola singkatan tersebut adalah huruf-huruf awal kata. Pada singkatan ini tidak diperlukan tanda titik.
Contoh: APBN <a-pe-be-en> (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara), BBM <be-be-em> (bahan bakar minyak), SLI <es-el-i> (sambungan langsung internasional), PT <pe-te>. (Perseroan Terbatas), TVRI <te-ve-er-i> (Televisi Republik Indonesia), WNA <we-en-a> (Warga Negara Asing).
2. Singkatan yang terdiri atas huruf-huruf kecil. Singkatan tersebut berasal dari huruf awal kata. Dalam pembentukannya harus digunakan tanda titik di antara huruf-huruf pembentuk singkatan itu.
Contoh: a.n. <a-en> (atas nama), d.a. <de-a> (dengan alamat), p.p.<pe-pe> (pulang pergi), u.p.<u-pe> (untuk perhatian), a.l. <a-el> (antara lain), y.l.<ye-el> (yang lalu).
3. Singkatan yang terdiri atas huruf-huruf kecil, yang dibentuk dari huruf awal. Singkatan ini terdiri atas tiga huruf kecil dan dibubuhi tanda titik pada akhir singkatan.
Contoh: dll.<de-el-el> (dan lain-lain), dsb.<de-es-be> (dan sebagainya), dkk.<de-ka-ka> (dan kawan-kawan), ybs.<ye-be-es>(yang bersangkutan), tsb.<te-es-be> (tersebut), yad.<ye-a-de> (yang akan datang)
.
4. Pola singkatan yang berkaitan dengan lambang kimia, ukuran, timbangan, dan besaran. Tanda titik tidak digunakan pada pola singkatan ini.
Contoh: Rp (rupiah), cm (sentimeter), kg (kilogram), MHz (megahertz), Ca (kalsium)
5. Singkatan pada gelar kesarjanaan dan sapaan. Singkatan dapat terdiri atas huruf awal kata atau dapat pula berbentuk akronim. Tanda titik digunakan pada setiap huruf besar hasil singkatan.
Contoh: S.H. <es-ha> (Sarjana Hukum), S.Psi. <es-psi> (Sarjana Psikologi), M.M.<em-em> (Magister Manajemen), S.Ag. <es-ag> (Sarjana Agama), K.H. <ka-ha> (Kyai Haji), R.A.<er-a> (Raden Ajeng)
.
6. Akronim yang unsur-unsurnya terdiri atas huruf-huruf besar. Huruf-huruf besar yang membentuknya terdiri atas huruf-huruf awal kata. Contoh: ABRI<a-bri> (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia), ASI<a-si> (Air Susu Ibu), HUT<hut> (hari ulang tahun), ISTI <is-ti> (Institut Seni Tari Indonesia), PAM <pam> (perusahaan air minum), SIM <sim> (Surat Izin Mengemudi).
7. Singkatan yang berupa akronim dari nama badan atau nama diri. Singkatan ini terdiri atas huruf-huruf bagian kata yang membentuk singkatan itu. Singkatan ini dilafalkan sebagai sebuah kata, sehingga disebut akronim. Huruf awal akronim ditulis dengan huruf besar.
Contoh: Bappenas <ba-pe-nas> (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional), Depdiknas<dep-dik-nas> (Departemen Pendidikan Nasional), Bakin,<ba-kin>. (Badan Koordinasi Intelijen Negara), Kapolri<ka-pol-ri> (Kepala Kepolisian Republik Indonesia), Wagub <wa-gub> (Wakil Gubernur)
8. Akronim pada pola ini adalah akronim yang seluruhnya ditulis dengan huruf kecil. Contoh: tilang (bukti pelanggaran), rudal (peluru kendali), sosbud (sosial budaya), toserba (toko serbaada), pemilu (pemilihan umum).
9. Bentuk singkatan yang sebagian berasal dari kata-kata asal bahasa asing. Dalam singkatan ini tidak diperlukan tanda titik.
Contoh: memo (memorandum), lab (laboratorium), resto (restoran), promo (promosi
, seleb (selebritis), kafe (kafetaria), info (informasi), nego (negosiasi), matre (materialistis), lesbi (lesbian), konsen(konsentrasi).
Jika dianggap perlu membentuk akronim, hendaknya diperhatikan syarat berikut.
Jumlah suku kata akronim jangan melebihi suku yang lazim pada kata Indonesia.
Akronim dibentuk dengan memperhatikan keserasian kombinasi vokal dan konsonan yang sesuai dengan pola kata Indonesia yang lazim.

Karena akronim dilafalkan sebagai kata yang wajar, maka kadang-kadang akronim dapat diberi imbuhan.
Contoh: tilang (bukti pelanggaran)-menilang-ditilang-penilangan
        PHK (putus hubungan kerja)-mem-PHK, di-PHK-kan
        tapol (tahanan politik)-ditapolkan = dijadikan sebagai tahanan
   
Politik.


III.           KESIMPULAN


Adapun kesimpulan yang diperoleh adalah sebagai berikiut:
1.    Jika sebuah kata diucapkan secara sepenggal-sepenggal maka cara pengucapannya dibatasi menggunakan tanda (-)
2.    Jumlah suku kata dalam bahasa indonesia memiliki suku kata yang berbeda-beda. Ada yang terdiri dari satu suku kata, dua suku kata, tida suku kata, empat suku kata dan llima suku kata.
3.    Pola suku kata dalam bahasa indonesia ada lima. Pola KV, VK, KVK, KKV, KKVK, dan KKKVK.
4.    Kata depan yang merupakan kata sambung tidak di letakkan diawal kalimat, melainkan di tengah kalimat.
5.    Singkatan dilafalkan huruf per huruf, sedangkan akronim dilafalkan sebagai suku kata.











DAFTAR PUSTAKA


Hs. Widjono. 2012. Bahas Indonesia (Mata Kuliah Pengembangan
Kepribadian di Perguruan Tinggi). PT. Grasindo. Jakarta.

I Nengah Sukarta, dkk. 2011.Bahasa  Indonesia Akademik untuk
Perguruan Tinggi     Edisi I, Cetakan 2. Swasta Nulus. Bali.
Studio, W. 2010. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang
Disempurnakan &    Pedoman Umum Pembentukan Istilah. Yrama Widya. Bandung.

Susanti, W. 2013. Pedoman Pintar EYD Terbaru. CV Mitra Media Pustaka.
Klaten Utara.









Pertanyaan diskusi

1.    Bimantara rizki : bagaimana cara penulisan singkatan jalan dengan benar?
Jawab : penulisan singkatan “jalan” yang benar berdasarkan kamus besar bahasa indonesia adalah “jln”
2.    M. Iqbal saputra : maksud dari penulisan singkatan dengan sewajarnya ?
Jawab : maksud dari penulisan singkatan dengan bahasa yang sewajarnya adalah dalam membuat singkatan, kita tidak boleh mengambil terlalu banyak huruf yang menyusun kata tersebut. Misalnya untuk menyingkat Departemen Pendidikan Nasional maka di singkat Depdiknas, Dep diambil darp kata Departemen, dik diambil dari kata Pendidikan, dan nas diambil dari kata Nasional.
3.    Arfiathi : contoh lain dari partikel tah, dan apakah partikel tah itu kata baku?
Jawab : contoh lain dari partikel tah adalah “apa iya tah dia tega mennggalkan anda begitu saja?” partikel tah bukan kata baku, partikel tah hanya di gunakan dalam dialog sehari-hari.
4.    Desti fauziah : maksud dari penambahan partikel dalam sebuah kata atau kalimat?
Jawab : maksud dari penambahan partikel dalam sebuah kata atau kalimat adalah untuk mempertegas kalimat tersebut, misalnya untuk mempertegas kalimat tanya maka dipakai partikel “kah”. Contohnya dalam kalimat “ apakah anda tidak sibuk?”.
5.    Anang ismarama : cara membedakan singkatan dengan akronim?
Jawab : perbedaan antara singkatan dengan akronim adalah bentuk singkatan dilafalkan huruf per huruf, sedangkan akronim dilafalkan sebagai suku kata.
6.    Adam jordan : mengapa kata oleh, dengan dan sampai dalam penggunaan kata depan tidak digunakan pada awal kalimat?
Jawab : karena kata oleh, dengan dan sampai merupakan kata sambung. Jadi tidak digunakan diawal kalimat, melainkan di tengah kalimat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PROPOSAL PKM LOLOS PIMNAS

PROPOSAL PKM K LOLOS PIMNAS